Kamis, 02 Juni 2016

#FFKamis-Tamu Menyeramkan



“Assalamu’alaikum…” Seseorang mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumahku.  Aku yang sedang tidur-tiduran di depan TV terkejut. Sudah jam Sembilan malam, tumben ada tamu.

“Ya….” Jawabku sambil mengintip ke jendela. 

Aku terkejut ternyata tamu tersebut seorang laki-laki berambut gondrong, brewokan dan mengenakan pakaian hitam-hitam.

“Sebentar ya Pak.” Kataku lagi sambil mengunci pintu dan lari ke belakang.

“Mas cepat pulang! Ada tamu serem.” Aku menelpon suamiku yang sedang pergi ke warung sebelah.

“Ya.” Jawabnya.

Tak lama suamiku pulang. Kudengar dia ngobrol dengan tamu itu di luar. Akupun keluar rumah dan merasa tak enak pada tamu tersebut. Ternyata dia sedang mencari rumah kontrakan.

Kamis, 26 Mei 2016

Niat Baik, Tujuan Baik Dengan Cara yang Kurang Baik di Mata Orang Lain

Beberapa hari yang lalu saya bertelfon ria dengan Kakak saya. Membahas berbagai macam hal, mulai dari kabar keluarga, cerita akhir pekan dan juga masalah parenting.

Saya sering berkonsultasi masalah pengasuhan kepada Kakak saya ini, apalagi sebentar lagi anak sulung saya akan mulai masuk TK. Tapi anak saya ini masih belum mau menulis, membaca maupun berhitung. Kata Kakak saya, ya biarkan saja, belajar saja dulu apa yang dia mau. 

Ya anak saya ini lebih suka menggambar  dan mewarnai. Tapi terkadang saya dituntut untuk membantunya menggambar atau mewarnai.

“No! Jangan pernah bantu anak, biarkan dia menggambar atau mewarnai sendiri.” Kata Kakak saya.

Kemudian Kakak saya bercerita tentang salah seorang kerabat kami. Kerabat kami ini selalu membantu anak-anaknya mengerjakan PR. Membantu disini maksudnya adalah mengerjakan. Beliau kurang sabar dalam membimbing anak-anaknya hingga akhirnya dipilih jalan pintas, yaitu dikerjakannya sendiri.

ini dia keluarga kecil saya
Apakah niatnya baik? Jelas niatnya pasti baik karena ingin agar PR anaknya selesai. Apakah tujuannya baik? Ya tujuannya baik juga. Dengan mengerjakan PR anaknya pasti anaknya tidak akan kena hukuman di sekolah. Tapi apakah caranya tepat? Tidak. Jelas caranya salah karena hal tersebut bukan membuat anakanya makin rajin tapi justru sebaliknya anakanya makin malas belajar dan mengerjakan PR. Untuk apa mengerjakan PR toh ada ibunya yang siap mengerjakan. Dan efek jangka panjangnya cukup fatal. Anak-anak dari kerabat kami ini tidak ada yang bisa mandiri karena sedari kecil hingga besar sudah biasa dibantu oleh ibunya. Jadi mereka menjadi bergantung terus pada ibunya.

“Lalu kalau anak-anak tidak mau mengerjakan PR bagaimana?” Tanya saya lagi.

Jawaban Kakak saya sungguh di luar dugaan. Katanya kalau anak-anak sudah diberi pengertian kemudian disuruh mengerjakan PR tetap tidak mau, ya sudah jangan dikerjakan. Kalau mereka dihukum di sekolah itu adalah bentuk konsekuensi dan tanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan. Kalau mereka sudah pernah merasakan hukuman tersebut pasti mereka tidak akan mengulanginya lagi. Dan sebagai orang tua kita harus memberikan contoh dan nasehat supaya anak tidak malas belajar dan mau mengerjakan PR nya sendiri.

“Kalau Farren pernah dihukum nggak?” Tanya saya kemudian.

“Enggak dong, dia termasuk good boy. “ Kata Kakak saya sambil tertawa bangga.

Kadang-kadang kita sebagai orang tua selalu ingin melindungi anak-anak kita, termasuk supaya tidak dihukum di sekolah. Namun seringnya kita lupa, apakah cara-cara yang kita gunakan sudah tepat atau malah menghancurkan mental anak-anak kita.

Kadang kebaikan tidak selalu berakhir baik. Namun, kadang kebaikan kita, yang mungkin dipandang sebagai kejahatan karena membiarkan anak tidak mengerjakan PR bisa berakhir baik karena dari situ kita mangajarkan nilai tanggung jawab dan komitmen.

http://www.noormafitrianamzain.com/

#FFKamis-Pelanggan



Hufffhhhh kenapa harus ada razia sih? Padahal aku sedang butuh banyak uang untuk berobat ibuku di kampung. Kenapa bukan minggu depan saja saat aku sedang tidak bekerja. Sial!!!, rutukku.

Aku segera berlari mengikuti teman-temanku yang sudah kabur duluan. Kerana tak bisa menyusul mereka aku akhirnya bersembunyi di sekitar semak-semak gelap.

Tiba-tiba ada yang menyekap mulutku dari belakang.

“Sttt….” Katanya.

Kemudianaku berbalik dan dia melepaskan sekapannya. 

“Mas Tomo” pekikku pelan. Dia adalah pelanggan setiaku.

“Kamu tunggu disini ya, nanti aku jemput kalau tugasku sudah selesai.” Katanya lagi.

Aku hanya mengangguk, menatap punggung Mas Tomo yang kembali bertugas untuk merazia para PSK.